Senin, 08 Januari 2018

Catatan Pameran Drs. Aryo Sunaryo, M.Pd.

Pameran Portofolio Drs. Aryo Sunaryo, M.Pd.

Riza Istanto, S.Pd.




Setelah lebih dari 40 tahun (01-01-1975 s.d 31-08-2015) menjadi pengajar atau dosen seni rupa (UNNES), Drs. Aryo Sunaryo, M.Pd. mengakhiri purna tugasnya dengan menyelenggarakan pameran seni rupa bertajuk “Pameran Portofolio”. Pameran yang berlangsung selama tiga hari (15-18/09/2015) tersebut,  menghadirkan beberapa karya seni rupa yang dibuatnya selama kurun waktu 40 tahun yang terdiri atas karya patung, lukis, grafis, desain, gambar, dan lain-lain.
Drs. Aryo Sunaryo, M.Pd. merupakan dosen pengajar di jurusan seni rupa Unnes. Di samping tugasnya sebagai dosen, ia juga melukis dan berpameran, merancang dekorasi, mural, relief, patung, dan lain sebagainya. Penghargaan di bidang seni  antara lain Canting Emas dari IKIP Yogyakarta (1978), Pemenang lomba lukis Bungkarno (2006) juga turut serta dipamerkan dalam pameran kala itu. Tidak hanya berkesenian, kemampuannya dalam hal menulis juga tidak diragukan, terbukti dari tulisannya untuk sejumlah seminar dan penataran atau pelatihan, artikel di beberapa jurnal ilmiah, paparan perkuliahan atau buku ajar, dan bebrbagai macam tulisan lainnya.
Aryo Sunaryo bukan orang yang  toleran pada saat berkarya seni, beberapa karya seni rupa pernah ia coba contohnya karya lukis, grafis, desain, patung, maupun gambar. Dalam hal melukis pun demikian, gaya seni realis, dekoratif, serta abstrak  juga dijajaki. Namun ciri khas selalu melekat pada setiap karyanya.
Kecintaan terhadap seni, budaya, dan pendidikan ia salurkan melalui beberapa karyanya. Karya-karya yang dipamerkan pada saat itu, membuat orang yang menyaksikan terhipnotis terhadap nilai-nilai seni dan budaya. Beberapa tema seperti budaya Bali, tari-tarian, topeng, wayang, dan berbagai tema lainnya dapat kita jumpai. Di tangannya seni menjadi serba indah, cantik, dan ornamentis. Bahkan, pesan konservatif untuk mencintai seni dan budaya sangat terasa.
Lihatlah, misalnya, Dewi Sri (1985) yang menggambarkan tentang Dewi Sri sebagai dewi kesuburan, digarapnya dengan penuh keindahan dan ornamentis. Seakan mitos tersebut muncul kembali dengan nuansa yang baru dan berbeda. Mengingat, mitos tersebut telah mulai pudar dalam pandangan masyarakat Jawa.
Hal yang sama juga dapat kita jumpai pada berbagai karya yang menghadirkan subjek wanita seperti di antaranya Penjual Patung (1976), Penari Pendet (1977), Wanita Bali (1990), Wanita (2000), hadir dengan pesona yang cantik. Budaya dikemasnya menjadi serba menarik, dengan penguasaan proporsi serta paduan komposisi yang tepat. Inilah tuturan budaya yang dibawa dan diungkapkannya secara indah serta liris.
Berbicara tentang pendidikan atau pembelajaran dia adalah orang yang sangat totalitas. Ia mengembangkan seni dan budaya tidak hanya di dalam kampus tetapi juga di luar kampus. Beberapa penelitian tentang ornamen candi, relief, wayang dan lain sebagainya pernah dilakukan. Salah satu buktinya adalah, ia pernah meraih juara untuk loba tulis tentang pembelajaran wayang yang turut dipamerkan kala itu. Ia juga pernah mengelola pameran gambar wayang bersama komunitas Sobokarti Semarang dengan mengikutsertakan beberapa mahasiswanya.
Universitas Negeri Semarang (Unnes) patut berbangga memiliki dosen seperti beliau. Dialah satu-satunya dosen yang mengembangkan konservasi secara luas. Pengabdiannya untuk almamater sebagai pengajar dapat kita lihat pada karya beliau yang monumental. Tugu sutra (2009) memberi semangat untuk semua mahasiswa Unnes dalam belajar dan mengembangkan pengetahuannya. Hal yang sama juga dijumpai pada karya patung yang terdapat di perpustakaan pusat Unnes yang semuanya turut serta dipamerkan dalam pameran bertajuk “Pameran Portofolio”.
Inilah Aryo Sunaryo, dengan segala dedikasi dan usahanya mengembangkan seni dan budaya melalui pendidikan. Semangat tersebut akan tersalurkan oleh seluruh mahasiswanya.





Gambar di samping merupakan salah satu contoh karya bapak Aryo Sunaryo yang penulis foto


Tulisan ini dibuat dalam kaitannya dengan Pameran Portofolio Drs. Aryo Sunaryo, M.Pd.









1 komentar: