Pameran
Portofolio Drs. Aryo Sunaryo, M.Pd.
Riza Istanto, S.Pd.
Setelah lebih
dari 40 tahun (01-01-1975 s.d 31-08-2015) menjadi pengajar atau dosen seni rupa
(UNNES), Drs. Aryo Sunaryo, M.Pd. mengakhiri purna tugasnya dengan menyelenggarakan
pameran seni rupa bertajuk “Pameran
Portofolio”. Pameran yang berlangsung selama tiga hari (15-18/09/2015)
tersebut, menghadirkan beberapa karya
seni rupa yang dibuatnya selama kurun waktu 40 tahun yang terdiri atas karya patung, lukis,
grafis, desain, gambar, dan lain-lain.
Drs. Aryo
Sunaryo, M.Pd. merupakan dosen pengajar di jurusan seni rupa Unnes. Di samping
tugasnya sebagai dosen, ia juga melukis dan berpameran, merancang dekorasi,
mural, relief, patung, dan lain sebagainya.
Penghargaan di bidang seni antara lain
Canting Emas dari IKIP Yogyakarta (1978), Pemenang lomba lukis Bungkarno (2006)
juga turut serta dipamerkan dalam pameran kala itu. Tidak hanya berkesenian,
kemampuannya dalam hal menulis juga tidak diragukan, terbukti dari tulisannya
untuk sejumlah seminar dan penataran atau pelatihan, artikel di beberapa jurnal
ilmiah, paparan perkuliahan atau buku ajar, dan bebrbagai macam tulisan lainnya.
Aryo Sunaryo
bukan orang yang toleran pada saat
berkarya seni, beberapa karya seni rupa pernah ia coba contohnya karya lukis,
grafis, desain, patung, maupun gambar.
Dalam hal melukis pun
demikian, gaya seni realis, dekoratif, serta
abstrak juga dijajaki. Namun ciri khas selalu melekat pada setiap karyanya.
Kecintaan
terhadap seni, budaya, dan pendidikan ia salurkan melalui beberapa karyanya. Karya-karya
yang dipamerkan pada saat itu, membuat orang
yang menyaksikan terhipnotis terhadap nilai-nilai
seni dan budaya. Beberapa tema seperti budaya Bali, tari-tarian, topeng, wayang, dan berbagai tema lainnya
dapat kita jumpai. Di tangannya seni menjadi serba indah, cantik, dan
ornamentis. Bahkan,
pesan konservatif untuk mencintai seni dan budaya sangat terasa.
Lihatlah,
misalnya, Dewi Sri (1985) yang
menggambarkan tentang Dewi Sri sebagai dewi kesuburan, digarapnya dengan penuh
keindahan dan ornamentis. Seakan mitos tersebut muncul kembali dengan nuansa yang baru dan berbeda. Mengingat, mitos tersebut telah
mulai pudar dalam pandangan masyarakat Jawa.
Hal yang sama
juga dapat kita jumpai pada berbagai karya yang menghadirkan subjek wanita
seperti di antaranya
Penjual Patung (1976), Penari Pendet (1977), Wanita Bali (1990), Wanita (2000), hadir dengan pesona yang cantik. Budaya dikemasnya menjadi serba menarik, dengan penguasaan
proporsi serta paduan komposisi yang tepat. Inilah tuturan budaya yang dibawa dan
diungkapkannya secara indah serta liris.
Berbicara tentang
pendidikan atau pembelajaran dia adalah orang yang sangat totalitas. Ia
mengembangkan seni dan budaya tidak hanya di dalam kampus tetapi juga di luar
kampus. Beberapa penelitian tentang ornamen candi, relief, wayang dan lain sebagainya
pernah dilakukan. Salah satu buktinya
adalah, ia
pernah meraih juara untuk loba tulis tentang pembelajaran wayang yang turut
dipamerkan kala itu. Ia juga pernah mengelola pameran gambar wayang bersama
komunitas Sobokarti Semarang dengan mengikutsertakan beberapa mahasiswanya.
Universitas
Negeri Semarang (Unnes)
patut berbangga memiliki dosen seperti beliau. Dialah satu-satunya dosen yang
mengembangkan konservasi secara luas. Pengabdiannya untuk almamater sebagai
pengajar dapat kita lihat pada karya beliau yang monumental. Tugu sutra (2009) memberi semangat untuk
semua mahasiswa Unnes dalam belajar dan mengembangkan pengetahuannya. Hal yang
sama juga dijumpai pada karya patung yang terdapat di perpustakaan pusat Unnes
yang semuanya turut serta dipamerkan dalam pameran bertajuk “Pameran
Portofolio”.
Inilah Aryo Sunaryo, dengan segala dedikasi dan
usahanya mengembangkan seni dan budaya melalui pendidikan. Semangat tersebut
akan tersalurkan oleh seluruh mahasiswanya.
Gambar di samping merupakan salah satu contoh karya bapak Aryo Sunaryo yang penulis foto
Tulisan ini dibuat dalam kaitannya dengan Pameran Portofolio Drs. Aryo Sunaryo, M.Pd.

terima kasih Riz....
BalasHapus